16 Feb 2012
Bagi penanam modal China, daya tarik utama Kamboja adalah rendahnya tingkat upah.
Ekonomi China memang tumbuh luar biasa. Di pantai timur China, setiap tahun tingkat upah naik antara 10 hingga 20 persen. Dengan demikian pengusaha China mencari lokasi lain dengan tingkat upah yang lebih rendah.
Ini bisa berarti mencari lokasi lain di wilayah pedalaman China. Atau ke negeri lain, seperti misalnya Vietnam, Indonesia, Bangladesh, dan Kamboja. Tingkat upah di Kamboja saat ini, belum mencapai separoh tingkat upah buruh di pantai timur China.
Hubungan Kamboja dengan China sejak dulu memang sangat akrab. Bahkan juga pada masa gelap, saat kekuasaan rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot. China memang menganggap Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam sebagai halaman belakang dan wilayah yang termasuk dalam pengaruh kekuasaan mereka.
Hanya Vietnam yang tidak menyukai posisi seperti itu. Dan karena itu pula, pada masa lalu, Vietnam mengambil peran penting dalam upaya menggulingkan rezim Pol Pot.
Dengan nilai investasi sebesar delapan miliar dolar, saat ini China merupakan negara penanam modal terbesar di Kamboja. Perdana Menteri Hun Sen mengakui, pertumbuhan ekonomi Kamboja, tujuh persen per tahun, sebagian besar berkat bantuan modal dan teknologi China.
Belum lama ini, perusahaan minyak China telah memulai operasi pengeboran minyak di lepas pantai Kamboja. Pengusaha China juga sedang sibuk membangun lima bendungan pembangkit listrik tenaga air di sungai Mekong.
Sekitar 20 perusahaan China lainnya giat dalam sektor pertambangan seperti misalnya titanium, bauksit dan tembaga. Selanjutnya, tiga perusahaan pangan China setiap tahun siap membeli ratusan ribu ton beras Kamboja. Singkat kata, China ada dan aktif di semua sektor.
Namun, sektor usaha yang paling utama adalah tekstil dan pakaian jadi, dengan tujuan pasar di Eropa serta negara-negara kaya lainnya. Dan pemerintah Kamboja menyambut hangat kedatangan modal dan teknologi China.
Ith Praing, seorang pejabat tinggi di Departemen Industri, Pertambangan dan Energi Kamboja menyatakan, semua investasi dari China bernilai bagus.
De Volkskrant menutup ulasan ini dengan menyorot nasib kaum buruh Kamboja. Saat ini, ketentuan upah minimum yang berlaku di Kamboja masih dipatok pada nilai sekitar 60 dolar per bulan, atau sekitar 550.000 rupiah. Kalangan serikat buruh Kamboja menilai tingkat upah seperti itu sangat tidak manusiawi.
Oleh : Radio Nederlad, Rabu (15/2/2012).
Sumber : kompas.com
Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330
(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)
PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara
© Inacom. All Rights Reserved.