Berita Terbaru

03 Jul 2009

Prospek harga kopi masih cerah. Pemerintah dongkrak konsumsi domestik

Prospek harga kopi masih cerah. Pemerintah dongkrak konsumsi domestik

Dirjen Perkebunan Departemen Petanian Achmad Mangga Barani mengatakan harga komoditas, termasuk kopi, cenderung menunjukkan kenaikan meskipun pada saat ini masih mengalami fluktuasi yang tinggi.

"Harga kopi kemungkinan beranjak naik sama seperti kakao. Gunung esnya adalah masalah global. Kalau masalah global tidak selesai, siapa yang bisa menentukan harga tahun depan?" katanya dalam acara peringatan 15 tahun kemitraan PT Nestle Indonesia dalam budi daya kopi, kemarin.

Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian mencatat Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar kelima di dunia dengan areal lahan terluas kedua setelah Brasil. Volume ekspor kopi dari Tanah Air sebagian besar masih dalam bentuk biji kopi tercatat di urutan keempat terbesar dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Tahun ini, Jakarta diprediksi mampu memproduksi kopi sampai sekitar 689.140 ton yang terdiri dari kopi robusta sebesar 557.190 ton atau sekitar 81% dari total produksi dan sisanya 131.950 ton merupakan jenis arabika.

Selain itu, sekitar 469.000 ton atau 68% dari total produksi kopi dalam negeri diekspor ke luar negeri. Mangga melanjutkan rata-rata harga kopi di pasar dunia mencapai sekitar US$2 per kg, sedangkan jenis kopi spesial (specialty coffee) bergerak di kisaran US$8-US$9 per kg.

"Khusus kopi luwak, atau yang diproses dengan musang, harganya meroket di kisaran US$100-US$120 per kg," tuturnya.

Harga kopi, seperti dicatat Bloomberg pada Rabu, tergelincir pada hari kedua perdagangan di bursa New York akibat spekulasi panen kopi di Brasil, meski masuk fase produksi yang rendah, tetap lebih tinggi dari periode sebelumnya.

Adapun, nilai kontrak kopi arabika pengiriman September turun 0,7% menjadi US$1,1905 per pound (1 pound setara dengan 0,45 kg) di bursa ICE Futures New York. Harga kopi robusta pengiriman September turun 0,9% menjadi US$1.323 per ton di London.

"Harga kopi adalah harga yang berlaku di seluruh dunia yaitu robusta terbentuk di bursa London dan kopi arabika terbentuk di New York. Secara umum, harganya berfluktuasi tergantung pada pasarnya," kata Peter Vogt, Presiden Direktur PT Nestle Indonesia.


 

 

 

Naikkan konsumsi

Mangga melanjutkan fluktuasi harga kopi di pasar dunia seharusnya bukan momok bagi produsen kopi dalam negeri apabila tingkat konsumsi kopi di pasar domestik setinggi tingkat permintaan di Brasil dan Kolombia yang bergerak di kisaran 3-4 kg per kapita per tahun.

Konsumsi kopi per kapita di Indonesia, katanya, hanya sekitar 500 gram setiap tahunnya.

Tingkat konsumsi kopi robusta, kata Mangga, akan dinaikkan dari 500 gram per kapita per tahun menjadi 700 gram. Adapun konsumsi kopi arabika akan didorong ke atas dari 500 gram menjadi 1.000 gram per kapita per tahun.

Dalam skenario Deptan itu, kenaikan konsumsi kopi akan dibarengi dengan kenaikan produksi yaitu kopi robusta dari 650.000 ton menjadi 750.000 ton per tahun melalui pemakaian bibit unggul a.l. dihasilkan dari teknologi Somatic Embryogenesis.

 

Sumber : Bisnis Indonesia ([email protected])

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.