Berita Terbaru

23 Nov 2006

10 Pabrik Sarung Tangan Karet Terancam Tutup

10 Pabrik Sarung Tangan Karet Terancam Tutup

"Kami sudah melaporkan kesulitan ini kepada pemerintah, PT Perusahaan Gas Negara, Pertamina, dan pemerintah daerah, tetapi sampai sekarang belum juga ada penjelasan dan solusi. Padahal, pasar sarung tangan karet alam dunia terus bertumbuh 20 persen setiap tahunnya," kata Presiden Asosiasi Pengusaha Sarung Tangan Karet Indonesia (Indonesian Rubber Glove Manufacturers Association/IRGMA) Safiun di Jakarta, Rabu (22/11).

Industri sarung tangan karet alam (lateks) di Medan membutuhkan gas sebanyak 5,6 juta meter kubik per bulan, dengan tekanan 1 bar hingga 1,5 bar.

Kenyataannya, sejak 8 Juli 2006 realisasi tekanan hanya 0,3 bar hingga 0,7 bar. Dampaknya, pengusaha tidak dapat mengoptimalkan seluruh mesinnya untuk meningkatkan produksi.

Dari 12 pabrik sarung tangan lateks di Indonesia, 10 di antaranya berlokasi di Medan. Dua yang lain, PT Arista Latindo Industrial Limited di Jawa Barat dan PT Abbergummi Medical, berlokasi di Jawa Timur.

Menurut Safiun, kondisi yang dialami para pengusaha ini ironis di tengah pertumbuhan pasar sarung tangan lateks internasional. Nilai ekspor tahun 2005 tercatat sebesar 200 juta dollar AS, sedangkan tahun 2006 diperkirakan sekitar 250 juta dollar AS.

Perkembangan pasar sarung tangan karet dunia terbilang pesat sebagai produk industri hilir komoditas karet alam. Industri itu kini merupakan sektor hilir berbahan baku karet alam terbesar kedua setelah otomotif.

Tanpa dukungan pemerintah, pengusaha kesulitan meningkatkan produksinya. "Industri ini sangat membutuhkan gas untuk kegiatan produksi," kata Safiun.

Keterbatasan gas di Medan secara tidak langsung menjadi kampanye negatif bagi upaya peningkatan investasi sektor hilir karet alam. Padahal, sebagai negara produsen karet alam kedua terbesar di dunia setelah Thailand, Indonesia berpotensi mengembangkan industri hilir lateks.


Nasib buruh

Dampak dari penurunan produksi tersebut, sedikitnya 10.000 buruh terancam kehilangan pekerjaan. Keterbatasan produksi yang terjadi menyebabkan pengusaha sering gagal memenuhi permintaan konsumen.

"Sekarang saja sudah ada 5.200 buruh yang dirumahkan karena kegiatan produksi jauh menurun. PT PGN harus turut bertanggung jawab atas kejadian ini," ujar Safiun lebih lanjut.


PGN pasrah


Industri di Medan mendapat pasokan gas melalui jaringan pipa Duri-Medan milik PT Perusahaan Gas Negara. Gas diproduksi dari lapangan-lapangan Pertamina di Wampu dan Pantai Pakam Timur.

Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Widyatmiko Bapang mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa terkait kualitas pasokan gas ke industri di Medan. Tekanan gas turun karena gas yang diproduksi dari lapangan Pertamina mengalami penurunan alami.

"Ya mau bagaimana. Kami juga sudah menyampaikan keluhan ini ke Pertamina dan mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang produksi dari lapangan di Wampu dan Pantai Pakam Timur turun secara alami," kata Widyatmiko menjelaskan.

Penambahan pasokan gas dari lapangan Pertamina tidak bisa dilakukan karena tidak mungkin memotong jatah gas untuk pembangkit listrik PT PLN. PT Perusahaan Gas Negara sedang mengupayakan untuk menambah pasokan gas dengan membeli gas dari ConocoPhillips dan Kondur Petroleum.

PT Perusahaan Gas Negara mengharapkan bisa memperoleh tambahan pasokan sebesar 150 juta kaki kubik dari lapangan gas Suban milik ConocoPhilips. "Kalau negosiasi perjanjian jual-beli gas bisa dicapai akhir tahun ini, gasnya sudah bisa masuk 2008," kata Widyatmiko.


Sumber : Kompas.co.id

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.