Berita Terbaru

15 May 2007

RI-China jajaki kerja sama 4 sektor manufaktur. Dana revitalisasi pabrik gula membengkak

RI-China jajaki kerja sama 4 sektor manufaktur. Dana revitalisasi pabrik gula membengkak

Menteri Perindustrian Fahmi Idris menjelaskan berdasarkan kalkulasi sementara yang diperoleh dari verifikasi Departemen Perindustrian dan Departemen Pertanian, biaya investasi program restrukturisasi mesin pabrik gula di Indonesia bakal mencapai US$5 miliar.

 

"Pak Benny Wachjudi [Dirjen Industri Agro dan Kimia Depperin] sudah membicarakan hal ini dengan Deptan, dan pak Benny menilai kira-kira dibutuhkan modal US$5 miliar untuk melakukan restrukturisasi industri gula nasional," tutur Menperin seusai menerima kunjungan delegasi Pemerintah Provinsi Guangxi, China, yang dipimping Secretary of Guangxi Committee Liu Qibao, kemarin.

 

Pabrik tua

 

Menperin menilai peningkatan biaya restrukturisasi itu terjadi karena hampir 90% mesin industri gula, terutama pabrik gula BUMN di Jawa, telah berumur di atas 20 tahun dan hanya 10% dari total 52 pabrik gula di Indonesia yang telah menggunakan mesin baru atau berusia di bawah 10 tahun.

 

"Yang menggunakan mesin berusia di bawah 5 tahun itu hanya ada di Lampung, sedangkan [pabrik] di Jateng dan Jatim itu kebanyakan sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda sehingga mesin-mesinnya sudah tidak efisien. Nah, restrukturisasi ini akan kita arahkan ke sana [Jateng dan Jatim]," ujarnya.

 

Agar program restrukturisasi pabrik gula segera terwujud, Pemerintah Indonesia tengah mengundang investor asal China untuk bermitra dalam program restrukturisasi dan investasi baru di sektor pergulaan.

 

"Saya menawarkan [kepada investor China] agar mereka mendirikan pabrik gula di Kabupaten Merauke, Papua. Di sana tanahnya masih luas dan curah hujannya cukup tinggi sehingga cocok untuk mengembangkan [industri] gula," ujar dia.

 

Menperin mengingatkan bahwa sektor gula rafinasi merupakan industri yang investasinya diusulkan terbuka bersyarat. Artinya, investasi sektor ini diizinkan namun harus terkait dengan pengembangan gula tebu sehingga siapa pun yang akan berinvestasi di sektor ini harus mendirikan perkebunan tebu dalam tempo 3 tahun.

 

Selain di sektor rafinasi, kata Fahmi, delegasi dari Provinsi Guangxi, China juga tertarik berinvestasi di sektor perkebunan singkong untuk bahan baku etanol, traktor tangan dan alat berat, serta nikel dan tembaga.

 

Secretary of Guangxi Committee Liu Qibao menggambarkan industri gula di Guanxi berkembang cukup pesat. Industri gula di China cukup terintegrasi mencakup sektor pengemasan, produk turunan gula berupa sirup, dan industri penyulingan gula untuk konversi energi.

 

Berdasarkan catatan Bisnis, rencana pemerintah merestrukturisasi industri gula masih menemui sejumlah masalah. Sebanyak 52 pabrik gula nasional diketahui hanya mampu menyediakan dana Rp136 miliar untuk program peremajaan mesin ini.

 

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsyir Mansyur menyarankan agar pemerintah memfokuskan pembangunan pabrik gula baru di luar Pulau Jawa.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.