Berita Terbaru

19 Aug 2010

Sakakibara: Pemerintah Bakal Tahan Apresiasi Yen

Sakakibara: Pemerintah Bakal Tahan Apresiasi Yen

"Saat ini, pemerintah AS tidak ingin Jepang untuk intervensi. Mereka memilih untuk membiarkan dolar AS melemah demi mendukung ekspor," ujar Sakakibara dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg News.

 

Dia memperkirakan yen kemungkinan melewati rekor tertinggi pascaperang pada 79,75 per dolar AS, yang tercapai pada April 1995, paling lambat akhir September. Yen

menyentuh posisi 84,73 per dolar AS pada 11 Agustus, tertinggi sejak Juli 1995, menumbulkan spekulasi pemerintah Jepang akan mengambil tindakan untuk menahan apresiasi yen guna membantu eksportir.

 

Sampai dengan siang menjelang penutupan, yen diperdagangkan pada 85,30 per dolar AS di Tokyo.

 

"Tanpa dukungan dari AS, campur tangan pemerintah Jepang tidak akan efektif," kata Sakakibara.

 

Jepang tidak pernah intervensi dalam pasar valuta sejak Maret 2004, ketika yen mencapai 109 per dolar AS, mendekati level terendah sejak 2000. Bank of Japan menjual 14,8 triliun yen (US$172 miliar) selama kuartal I/2004, setelah mencatat rekor penjualan 20,4 triliun yen pada 2003. Mata uang ini ditutup pada 102,63 per dolar pada akhir 2004.

 

Sakakibara dikenal sebagai 'Mr. Yen' selama masa jabatannya di Kementerian Keuangan pada 1997-1999. Julukan itu diberikan lantaran upaya yang dilakukan untuk memengaruhi yen melalui intervensi verbal dan aktual di pasar valas.

 

Dia dengan tepat memperkirakan bahwa yen dapat menguat di atas 90 per dolar AS pada November 2008 karena krisis perbankan. Sakakibara kini adalah seorang dosen di Aoyama Gakuin University Tokyo.

 

Sakakibara juga mengatakan pelonggaran moneter dari bank sentral tidak akan menahan penguatan yen.

 

"Bank of Japan dapat sedikit melonggarkan kebijakan moneter lagi, untuk membeli surat utang pemerintah dan menyediakan likuiditas. Kebijakan moneter Jepang sudah sedikit longgar, pelonggaran kembali tidak akan berpengaruh banyak terhadap nilai tukar."

 

Anggota parlemen dari partai yang berkuasa di Jepang pekan lalu mendesak Perdana Menteri Naoto Kan untuk mempertimbangkan intervensi di pasar valas untuk pertama kali sejak 2004. Mereka juga menyerukan Bank of Japan agar melakukan pelonggaran moneter besar-besaran.

 

Kan dan Gubernur BOJ Masaaki Shirakawa akan bertemu pekan depan dan diharapkan akan membahas penguatan mata uang saat ini.

 

Sakakaibara juga meremehkan dampak dari apresiasi mata uang terhadap eksportir Jepang karena AS membeli lebih sedikit produk dari Jepang. Data pemerintah menyebutkan ekspor Jepang ke AS anjlok 39% tahun lalu hingga ke level terendah sejak 1981.

 

"Secara riil, yen tidak sekuat seperti pada 1995 saat melewati 80 yen per dolar AS. Nilai tukar saat ini, bahkan jika menyentuh 80, itu jauh lebih lemah. Delapan puluh pada 1995 sebanding dengan 60 atau 70 saat ini, jadi kita seharusnya tidak terlalu khawatir kalau yen menyentuh 85 atau 80," ujarnya.

 

"Pada 1995, kita berada dalam krisis. Kini, melihat fakta bahwa pemulihan AS terhambat dan ekonomi Jepang relatif baik, saya rasa situasi ini bukanlah situasi yang disebut krisis."

 

Sakakibara mengatakan yen mungkin terus naik setelah menguat 22% tahun ini terhadap euro. Pasalnya, negara Eropa yang tengah mengendalikan pengeluaran mencoba mengendalikan defisit anggaran.

 

"Kita belum melihat jalan keluar dari krisis euro, saya pikir krisis ini mungkin makin lama dan menyebar ke luar Yunani dan Spanyol, Portugal dan negara Eropa lainnya. Melihat kondisi euro yen sejauh ini, menurut saya sangat mungkin euro yen menembus 100."

 

Yen diperdagangkan pada 109,67 per euro hari ini, setelah menyentuh 107,32 pada 29 Juni, titik tekuat sejak November 2001.

 

Oleh      : Eisuke Sakakibara

Sumber : Bisnis.com.

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.