Berita Terbaru

10 May 2007

Inefisiensi Pabrik Jadi Beban Petani Tebu

Inefisiensi Pabrik Jadi Beban Petani Tebu

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil menjelaskan, masih dioperasikannya mesin-mesin penggilingan tebu yang sudah ada sejak tahun 1800-an menyebabkan kadar rendemen tebu rendah. Kebocoran ada di mana-mana dan air tebu banyak yang tidak menjadi gula. "Karena itu revitalisasi pabrik gula mendesak dilakukan," kata Arum Sabil, Rabu (9/5) di Surabaya.

 

Pasar gula global menghendaki efisiensi biaya produksi dan tenaga kerja. Karena itu agar produk gula kita bisa bersaing harus ada langkah perbaikan. Petani tebu tidak bisa terus menerus menanggung beban.

 

Arum Sabil melukiskan, rendahnya kadar rendemen tebu kita selain karena kualitas tebu yang harus lebih ditingkatkan juga akibat rendahnya kualitas mesin-mesin produksi kita. Padahal, keuntungan yang didapat petani tebu berasal dari sistem bagi hasil.

 

Dicontohkan, tebu satu ton dengan kadar rendemen 7 persen menghasilkan gula sekitar 70 kg. Hasil gula 70 kg itu dibagi dua, sebesar 66 persen untuk petani dan 34 persen biaya jasa penggilingan.

 

"Jika kualitas mesin-mesin pabrik gula dan tanaman tebu ditingkatkan sehingga kadar rendemen bisa mencapai 10 persen, pendapatan petani tentu semakin besar. Setidaknya untuk satu ton tebu petani bisa mendapat 66 kg gula," katanya.

 

Pasar gula di Indonesia besar. Tahun 2007 saja perkiraan kebutuhan gula sebesar 2,7 juta ton. Tahun 2006 produksi tebu 31 juta ton yang menghasilkan gula hanya 2,3 juta ton dengan kadar rendemen sekitar 7 persen. "Dengan rendemen 10 persen saja, produksi gula kita meningkat jadi 3,1 juta ton dan sudah melebihi kebutuhan. Kita punya pasar besar dan produksi besar tinggal membuat efisien saja," katanya.

 

Karena itu para petani tebu berharap revitalisasi pabrik gula dan tanaman tebu menjadi kenyataan. Jika realisasi revitalisasi pabrik gula mencakup 25 unit pabrik saja, produksi gula sudah pasti meningkat.

 

Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI Adig Suwandi dalam siaran persnya menjelaskan, PTPN XI menargetkan peningkatan kapasitas terpasang pada pabrik gula binaannya, yaitu PG Djatiroto (Lumajang) dan PG Semboro (Jember).

 

Kapasitas terpasang PG Djatiroto saat ini mencapai 5.700 ton tebu per hari dan secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 7.000 - 8.000 ton tebu per hari. Sedangkan kapasitas PG Semboro yang sekarang 4.600 ton tebu per hari akan ditingkatkan menjadi 5.500 - 6.000 ton tebu per hari.

 

Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Manggabarani mengungkapkan, revitalisasi pabrik gula memang telah menjadi prioritas pemerintah.

 

Sumber: Kompas

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.