26 Sep 2007
"Pengolahan sudah jalan. Untuk sementara memenuhi kebutuhan kami sendiri sambil menunggu sertifikasi Departemen Pertanian. Setelah itu, kami akan mengomersialkan ke publik," kata Kepala Seksi Lapangan PT Sumatera Tobaconesia Trader Company (STTC) Terulin Sembiring, Selasa (25/9) di Medan.
Rencananya, komersialisasi limbah kopi yang sudah diolah itu dilakukan tahun ini. Meski demikian, Sembiring belum bisa memprediksi harga pasaran produksi briket dan pupuk yang akan ditawarkannya. Ia hanya memberi gambaran, satu kilogram ampas kopi bisa diolah menjadi empat ons briket yang dipadatkan.
Pengolahan itu dilakukan dengan mengambil ampas biji kopi. PT Sari Incoofood (SI) hanya mengambil ekstrak kopi yang kemudian dijadikan bubuk kopi instan yang di pasaran dikenal sebagai Indocafe. Proses pengolahan secara sederhana dilakukan dengan cara mengeringkan limbah kopi. Selanjutnya, limbah dijadikan arang dan kemudian dicetak. "Ini sekaligus untuk menyediakan kebutuhan bahan bakar alternatif," katanya.
Briket dari limbah kopi itu siap dipakai dalam bentuk cetakan bulat, sebesar buah kemiri. Cara memanfaatkannya sama dengan briket batu bara.
Pertama kali
Menurut Ketua Asosiasi Eksportir Kopi (AEKI) Sumatera Utara (Sumut) Suyanto Husein, pengolahan limbah kopi itu baru pertama kali dilakukan di Sumut. "Baru PT SI yang mulai memanfaatkan limbah itu untuk keperluan briket dan pupuk organik," katanya.
Dia menambahkan, pengolahan limbah kopi sangat positif. "Sebanyak 2,8 kilogram bahan baku kopi bisa diolah menjadi 1 kilogram kopi bubuk instan. Selebihnya merupakan limbah yang tidak banyak dimanfaatkan para pabrikan," kata Suyanto, seraya mengatakan, pengolahan limbah kopi sangat mungkin mengingat produksi kopi di Sumut sangat tinggi.
Sumber: Kompas
Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330
(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)
PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara
© Inacom. All Rights Reserved.