Berita Terbaru

20 Nov 2006

Stok penyangga gula untuk redam gejolak harga

Stok penyangga gula untuk redam gejolak harga

 Adig Suwandi, Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI), mengatakan persoalan tersebut muncul menyusul kemungkinan tidak tercapainya produksi gula dalam negeri dari hasil penggilingan tebu tahun ini sesuai taksasi sebesar 2,47 juta ton.

"Akibat kemarau panjang yang berdampak luas terhadap produksi, kemungkinan besar produksi gula tahun 2006 tidak lebih dari 2,31 juta ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,6 juta ton," kata Adig Suwandi dalam siaran pers yang diterima Bisnis, kemarin.

Dengan memperhitungkan pada April 2007 nanti terdapat dua pabrik gula (PG) di Sumatra Utara (Sumut) dan empat PG di Lampung yang mulai melaksanakan giling dengan perkiraan produksi 110.000 ton, stok gula yang ada dari sisa hasil giling 2006 akan mampu memenuhi kebutuhan hingga minggu III April 2007.

"Karena itu untuk pemenuhan kebutuhan mulai akhir April hingga dimulainya giling sebagian besar PG di Jawa ditambah stok penyangga yang setara dengan kebutuhan sebulan, setidaknya diperlukan pasokan gula sekurang-kurangnya 225.000 ton.

Stok penyangga, kata dia, baru dilepas ke pasar apabila harga naik secara tidak wajar, namun semuanya harus habis pada saat giling sebagian besar PG dimulai. Seperti diketahui sebagian besar PG akan mulai giling mulai Mei 2007, sehingga pada minggu III Mei sudah mulai ada yang gula dilepas ke pasar domestik.

Idealnya stok penyangga berasal dari impor yang pelaksanaannya dilakukan empat importir terdaftar (IT), yakni kalangan produsen yang dalam proses produksinya menggunakan sekurang-kurangnya 75% bahan baku dari tebu rakyat.

Keempat IT tersebut adalah PT Rajawali Nusantara Indonesia dan PT Perkebunan

Nusantara (PTPN IX, PTPN X, PTPN XI). Perlu dicegah pemenuhan defisit yang berasal dari gula rafinasi produksi dalam negeri berbahan baku gula kristal mentah (raw sugar) impor.

Meskipun hingga April 2007 nanti terdapat 460.000 ton gula rafinasi produksi dalam negeri yang tidak bisa dipasarkan. Namun, kalau sampai dipaksakan masuk ke pasar dengan memperlakukannya sebagai gula konsumsi, jelas akan bersifat kontraproduktif.

Menurut dia, kalau gula rafinasi tadi dialokasikan untuk gula konsumsi dan dijadikan stok penyangga, tentu menjadi kompetitor tidak sehat terhadap gula lokal. Apalagi dari 1,1 juta ton produksi gula rafinasi, terdapat 518.000 ton raw sugar impor yang mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk.

Hampir dapat dipastikan digunakannya gula rafinasi sebagai stok penyangga akan mendapat perlawanan dari pihak petani tebu dan PG lokal. "Kalau tindakan tadi dipaksakan, bakal menjadi solusi permanen apabila terjadi defisit gula konsumsi di masa mendatang, sehingga mengganggu upaya peningkatan produktivitas.


Sumber : Bisnis Indonesia

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.