Berita Terbaru

29 Feb 2008

Ketika kedelai 'didikte' China

Ketika kedelai 'didikte' China

Mereka mungkin juga tidak memerhatikan apa yang terjadi di China, AS, Argentina, Uni Eropa, Brasil, Jepang serta Meksiko.

 

Padahal di pasar kedelai global, beberapa negara itu menjadi penentu pergerakan harga komoditas dunia, yang saat ini masih mengacu ke pasar berjangka Chicago (Chicago Board of Trade/Cibot).

 

AS, Argentina, dan Brasil merupakan pemasok utama kedelai global, sedangkan China, Uni Eropa, Jepang dan Meksiko adalah pengguna komoditas terbesar dunia.

 

Kalau pelaku usaha yang terkait dengan kedelai di Tanah Air mengamati kondisi negara itu, untuk menghindari risiko rugi, mereka bisa mengambil langkah antisipasi lindung nilai terhadap komoditas yang lebih dari 60% diperoleh dengan cara diimpor.

 

Namun, sabar dulu bung. Para pengusaha tempe kita mungkin belum terbiasa dengan praktik lindung nilai di pasar berjangka.

 

Ini mungkin disebabkan kondisi yang terlalu dininabobokkan oleh subsidi pemerintah atau memang belum diperkenalkan bagaimana mekanisme lindung nilai itu sendiri. Lalu, ini salah siapa?

 

Sejak awal tahun sebetulnya sudah banyak analis atau pelaku pasar lainnya yang mengingatkan akan naiknya harga kedelai di pasar internasional.

 

Hanya saja, mungkin yang disosialisasikan ke pelaku industri tempe atau produk turunannya hanya sebatas harga jual di pasar global yang terus naik.

 

Jadi, para importir domestik, yang di negara maju seperti AS, Jepang, dan lainnya hanya bertugas sebagai pengimpor komoditas, terpaksa menjual komoditasnya dengan harga tinggi pula.

 

Ya...mungkin hanya itu yang disosialisasikan.

 

Kalau pelaku industri itu mengerti soal pasar berjangka global yang sesungguhnya, seharusnya mereka tidak ribut seperti beberapa bulan yang lalu. Atau, bisa jadi mereka mengerti, namun ribut karena tak mau rugi.

 

Seandainya pengusaha tempe itu mengerti soal instrumen lindung nilai, mereka tentunya tak perlu repot hingga terancam gulung tikar usahanya.

 

Mereka dapat mengamankan harga pembelian komoditasnya dalam jangka waktu yang cukup panjang, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga satu tahun.

 

Jika begitu kejadiannya, penikmat tempe atau susu kedelai tak perlu risau. Harga barang konsumsi itu tak akan melonjak secara tiba-tiba.

 

Disedot China

 

Sejak awal tahun, dengan jumlah penduduk terbesar dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 9% pada tahun ini, China diprediksi menyedot lebih banyak komoditas.

 

Kondisi ini diperkirakan juga akan memicu negara ini mengimpor lebih banyak kedelai dan produk turunannya.

 

Berdasarkan asumsi ini, menurut proyeksi World Agricultural Supply and Deman Estimates, negara ini akan? mengimpor 34 juta ton atau 1,26 miliar bushel kedelai pada tahun ini.

 

Impor kedelai negara ini telah meningkat 18% dari periode tahun pemasaran 2006/2007 sebesar 28,73 juta ton.

 

Namun, proyeksi ini diperkirakan bertambah hingga dua kali lipat atau menjadi sekitar 56 juta ton pada tahun ini seiring badai salju terburuk dalam 50 tahun terakhir, yang menyerang areal tanaman lobak, bahan baku minyak nabati, di negara itu.

 

Minyak lobak di Negeri Tirai Bambu itu merupakan bahan campuran untuk makanan hewan dan minyak makan.

 

Kondisi di negara itu telah memicu kian melonjaknya harga kedelai di Chicago Board of Trade (Cibot), patokan harga komoditas global, hingga menyentuh rekor tertingginya pada level US$14,94 per bushel.

 

Peningkatan harga itu juga diperparah anjloknya persediaan komoditas AS yang menjadi 160 juta bushel dari tahun lalu yang mencapai 574 juta bushel.

 

AS merupakan eksportir kedelai terbesar dunia dengan volume penjualan mencapai 43% dari total penjualan ekspor global sebanyak 70,92 juta ton atau setara 2,6 miliar bushel.

 

Akibat melonjaknya permintaan, kondisi serupa AS juga dialami Brasil dan Argentina.

 

Persediaan kedelai kedua negara ini masing-masing turun sebesar 9% dan 10% menjadi 627 juta bushel dan 669 juta bushel.

 

Harga domestik

 

Bila mengacu kepada harga kontrak kedelai di Chicago yang kemarin telah mencapai US$14,53 per bushel dengan harga rata-rata sejak awal tahun sebesar US$13,11 per bushel, harga komoditas di pasar domestik tentunya bakal mengekor.

 

Jika berpatokan kepada asumsi nilai tukar rata-rata US$1=Rp9.270, harga rata-rata kedelai di pasar global menjadi Rp121.529 per bushel atau? Rp4.500 per kg, (1 bushel setara dengan 27 kg).

 

Harga komoditas itu tentunya belum memperhitungkan biaya angkut dan transportasi komoditas itu dari negara pengimpor menuju Indonesia.

 

Pada tahun lalu harga rata-rata kedelai mencapai US$8,85 per bushel. Dengan nilai rata-rata kurs US$1 sama dengan Rp9.120, harga komoditas itu Rp80.172 per 27 kg atau Rp2.990 per kg.

 

Dengan melihat data itu, harga rata-rata kedelai di pasar internasional dalam rupiah telah meningkat 50% dari level Rp2.990 per kg menjadi Rp4.500.

 

Perubahan harga komoditas itu juga menaikkan nilai tunai impor kedelai (termasuk bungkil kedelai) menjadi Rp10,8 triliun atau naik dari periode 2007 sebesar Rp6,8 triliun.

 

Angka itu tentunya mengacu kepada proyeksi impor total kedelai sebesar 2,4 juta ton pada tahun ini dan pada 2007.

 

Bisa dibayangkan berapa harga kedelai di pasar lokal, jika kondisi pertanian komoditas China belum cepat pulih, dan produsen komoditas utama seperti AS, Argentina, dan Brasil terpaksa mengurangi ekspornya untuk menutupi kebutuhan domestik.

 

Selain itu, persaingan minyak kedelai untuk energi alternatif dengan minyak kelapa sawit serta etanol, juga diprediksi kian mendorong harga komoditas itu menjadi lebih tinggi lagi.

 

Apa pun kondisinya, pada awal tahun ini harga kedelai global seperti 'didikte' konsumen minyak nabati terbesar dunia, China. Entah bagaimana selanjutnya.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

[email protected]

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.