Berita Terbaru

21 Jul 2005

Menunggu keberpihakan pemerintah pada industri teh

Menunggu keberpihakan pemerintah pada industri teh

Pada Juli mendatang Indonesia akan menjadi tuan rumah The Bali-Tea Conference 2005. Sebuah perhelatan cukup bergengsi untuk masyarakat pertehan nasional dan internasional. Konon perhelatan yang akan digelar itu, merupakan judul besar yang diusung untuk dua acara besar yaitu The 2nd International Tea Business Conference dan The16 th Session FAO IGG on Tea Meeting.


Pertanyaannya, mampukan pelaku industri dan masyarakat pertehan nasional memanfaatkan secara maksimal perhelatan tersebut. Pasalnya, penyelenggaran The Bali-Tea Conference 2005 digelar saat pelaku pertehan nasional nyaris kehabisan nafas karena takmampu lagi bersaing dengan produk sejenis di pasar internasional.


Kinerja ekspor teh nasional dalam lima tahun terakhir nyaris tak beranjak dari kisaran 90.000-100.000 ton, bahkan yang terparah volume ekspor 2004 justru sudah menyentuh 88.000 an ton. Memburuknya kinerja ekspor teh itu berkorelasi positif dengan produksi komoditas tersebut yang memang selama lima tahun terakhir relatif stagnan.


 


Barangkali kalau mau melihat kilas balik lebih kebelakang lagi, kondisi pertehan nasional saat itu kurang lebih sama dengan lima tahun terakhir ini. Hal ini menunjukkan bahwa teh memang belum menjadi komoditas yang patut menjadi perhatian pemerintah, berbeda misalnya dengan kelapa sawit.


 













































Kontribusi produsen teh ke pasar dunia pada 2003


Negara produsen


Persentase


Srilanka


22%


Kenya


20%


China


19%


India


12%


Indonesia


6%


Negara Afrika lainnya


5%


Vietnam


4%


Argentina


4%


Malawi


3%


Negara Asia lainnya


2%


Uganda


2%


Negara lain


1%


 






























Kinerja teh Indonesia (ton) periode 1999-2003


Tahun


Produksi


Ekspor


1999


161.003


97.047


2000


162.587


105.581


2001


166.867


99.721


2002


165.194


100.185


2003


168.053


88.176


Sumber : ATI


 


Membandingkan teh dengan kelapa sawit secara apple to apple memang tidaklah benar. Tetapi bukan tidak mungkin hal yang sama dengan teh juga bisa terjadi di kemudian hari pada komoditas lainnya. Atau ketika Indonesia terus disibukkan dengan ekspor dalam bentuk produk primernya, dan tidak pernah berupaya menggenjot nilai tambah dari berbagai komoditas primer yang selama ini dibangga-banggakan sebagai kekayaan sumber daya alam.


 


Kualitas turun


Teh, komoditas ini memang tidak lagi seindah saat kita memandang barisan bukit-bukit hijau yang dipenuhi oleh tanaman perkebunan tersebut. Pasalnya, produksi dan kualitas teh Indonesia belakangan ini terus menurun. Namun, bila meneliti lebih dalam lagi boro-boro meningkatkan produksi, apalagi kualitas, karena ternyata biaya produksi teh melampui harga yang berlaku di pasar sekarang.


 


Seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (ATI), Insyaf Malik. "Kualitas produk teh Indonesia terus menurun sehingga menyebabkan komoditas itu kalah bersaing di pasar internasional, termasuk ke Mesir sekalipun."  Dia mencontohkan angka ekspor teh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII ke Mesir misalnya, anjlok 98,52% dari 27.000 ton menjadi hanya 400 ton saja akibat kualitasnya yang terus menurun. Padahal pemerintah Mesir sudah memberikan keringanan BM dari 30% menjadi 5%.


 


Mesir, pasar tradisional teh Indonesia kini nyaris hilang dari peta pasar komoditas tersebut. Untuk mendongkrak ekspor ke negara Piramid itu tentu tidaklah mudah, karena akhirnya berujung pada biaya alias investasi untuk segalanya termasuk promosi kembali.


 


Ketua ATI mengakui kalau kualitas produk teh Indonesia cenderung anjlok karena rendahnya investasi di sektor itu. Sementara keuntungan usaha dari produksi teh nyaris tidak ada, bisa menutupi biaya operasional dan masih mampu mengeskpor saja sudah bagus.


 


Dia mencontohkan investasi secara besar-besaran untuk perkebunan teh sempat terjadi di tahun 1985, tetapi setelah itu terus menyusut. Akibatnya, sudah barang tentu, tidak pernah lagi ada proses peremajaan pada tanaman perkebunan itu.


Karena kualitas teh, sangat bergantung pada peremajaan, perawatan dan pemupukan. Bagi perkebunan besar sekelas PT Perkebunan Nusantara atau perkebunan besar swasta, masalah perawatan dan pemupukan mungkin masih bisa dilakukan. Tetapi tidak demikian halnya dengan petani.


 


Harga turun


Akibat makin rendahnya kualitas teh akhirnya bermuara pada terus menurun harga jual komoditas tersebut di pasar internasional, dan pada gilirannya makin menipisnya margin keuntungan usaha perkebunan teh di Tanah Air. Harga jual teh Indonesia di Jakarta Tea Auction misalnya sekitar 65% di bawah harga lelang di India (Calcutta Tea Auction) dan 70% di Srilanka (Colombo Tea Auction).


 


Tampaknya sungguh berat memang beban yang dipikul oleh para pelaku pertehan nasional. Mungkinkah perhelatan besar yang digelar di Bali itu bisa menggugah keberpihakan pemerintah terhadap industri perkebunan teh. Karena bila tak ada keberpihakan dari pemerintah terhadap komoditas yang satu ini, bukan tak mungkin teh impor seperti dari China, misalnya, akan makin menbanjiri pasar lokal. Terlebih lagi bila dukungan promosi yang cukup kuat dari pemerintah mereka.


Padahal perkebunan teh merupakan industri padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan sumbangan devisa cukup besar kepada negara.  Sementara persoalan lain yang juga turut membelenggu pelaku pertehan nasional adalah pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kenaikan gaji karyawan.


 


Oleh : Neneng Herbawati


http://www.bisnis.com


Kamis, 09/06/2005

Logo KPBN

Contact Us

Jl. Cut Meutia NO. 11, RT. 13, RW. 05, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kode Pos. 10330

(021)3106685, (021)3907554 (Hunting)

humas@inacom.co.id

PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara

Social Media

© Inacom. All Rights Reserved.