KPBN News

Produsen Teh Dunia Tolak Hambatan Non Tarif Negara Maju

Produsen teh dunia secara tegas menolak sejumlah hambatan non tarif yang diberlakukan negara-negara konsumen/maju apalagi di saat harga teh mengalami penurunan. `Adanya sejumlah ketentuan non tarif yang diberlakukan negara konsumen membuat situasi teh dunia kian sulit di tengah makin anjloknya harga teh di pasar dunia,` kata Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia Insyaf Malik, di Jakarta, Rabu.
Teh Internasional (ITBC) ke dua dan Grup Antar Pemerintah Produsen Teh (IGG on Tea) ke-16, yang akan berlangsung 18-22 Juli 2005 di Bali. Menurutnya, negara-negara maju yang selama ini merupakan konsumen teh dunia makin gencar menerapkan sejumlah hambatan non tarif untuk teh antara lain berupa maksimum batas residu, batas analisis kimia, kelestarian lingkungan alam.

`Bahkan di sejumlah negara Eropa mengkaitkan masalah hak asasi manusia (HAM) menjadi syarat untuk bisa masuk pasar di kawasan itu sementara di Amerika Serikat diterapkan 'Bio Security Act',` katanya. Diakui, kondisi teh dunia saat ini terjadi kelebihan pasok sebesar dua hingga tiga persen dari kebutuhan dunia. Produksi teh dunia setiap tahun mencapai sekitar tiga juta ton dan saat ini terdapat kelebihan sebesar 90 ribu ton.

Akibat dari kelebihan stok di pasar dunia tersebut, katanya, harga teh mengalami penurunan dan bahkan harga jual teh Indonesia lebih rendah 80 persen hingga 85 persen dibanding harga teh Srilanka dan 75 persen dari harga teh India.

Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Iyan Heryanto, mengatakan, akibat adanya hambatan non tarif tersebut produsen teh nasional menjadi sulit bersaing karena harus mengeluarkan biaya ekstra sehingga harga jualnya menjadi mahal.

`Kita sebagai produsen teh terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dalam lima tahun terakhir ini terus menerus merugi karena harga teh yang terus turun ditambah dengan adanya hambatan non tarif,` kata Iyan. Indonesia selama ini tercatat sebagai produsen teh terbesar ke lima di dunia setelah India, Cina, Srilanka, dan Kenya. Produksi teh Indonesia setiap tahun mencapai 150 ribu ton dan sekitar 100 ribu ton diantaranya ditujukan ke pasar ekspor.

Ekspor teh Indonesia selama 2004 ditujukan ke Rusia (15,4 persen), Inggris (14,4 persen), Malaysia (sembilan persen), Pakistan (8,6 persen), Jerman (tujuh persen), Amerika Serikat (tujuh persen), Polandia (5,4 persen), dan Belanda (5,3 persen).

Kedelapan negara tersebut menyerap pangsa pasar 72,1 persen dari total ekspor teh Indonesia. Pasar ekspor teh Indonesia, katanya, telah terdiversifikasi dengan baik sehingga terjadi suatu goncangan di salah satu negara tujuan ekspor maka tidak terlalu mengganggu stabilitas teh nasional.

(mes – diolah dari berbagai sumber)
07 Jul 05